Seminar Akademik Jurusan Penerangan Agama Hindu

12/06/2014, Jurusan Penerangan melaksanakan kegiatan “seminar akademik”, yang bertempat di Gedung Rektorat Lantai II STAHN-TP Palangka Raya. Seminar tersebut mengusung tema “Melalui Ritual, Pembinaan dan Pentransformasian Nilai-Nilai Hindu, Ajaran Hindu Termasyarakatkan”. Kegiatan seminar ini didahului dengan acara pembukaan. Diawali dengan Laporan ketua panitia seminar, Sihung, S.Ag., M.Si,\. Dalam laporannya disampaikan bahwa kegiatan seminar ini merupakan tindak-lanjut dari terbitnya SK No: Sth.02.1/PP.00.0/0341/2014 tentang Pembentukan Panitia Seminar Akademik Jurusan Penerangan Agama Hindu STAHN-TP Palangka Raya Tahun Akademik 2014.

Tujuan dari pelaksanaan seminar adalah sebagai media diskursus tentang tematik upacara dalam Hindu, etika dan dasar filosofisnya. Dengan demikian diharapkan umat Hindu akan memperoleh pemahaman yang mendasar bagaimana memaknai setiap upacara. Dengan demikian setiap bentuk upacara yang ada akan senantiasa terlaksanakan dengan sradha dan bhakti mendalam. Sihung, Juga menyampaikan bahwa peserta dalam kegiatan seminar tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa yang ada dilingkungan kampus STAHN-TP palangka Raya. Dalam Akhir sambutannya, Ketua panitia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat untuk menyukseskan kegiatan seminar, dan berharap semua peserta dapat memperoleh pengetahuan yang berharga dalam dialog nantinya.

Usai laporan ketua panitia, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua jurusan penerangan agama Hindu, Evie, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya menyampaikan apesiasi yang mendalam kepada panitia seminar yang telah bekerja untuk suksesnya kegiatan tersebut. Selanjutnya, Evie memberikan empat catatan penting dalam kegiatan ini, yakni : 1) Seminar ini merupakan media untuk menggali potensi kearifan lokal (lokal genius) sebagai salah satu bentuk pengembangan kurikulum pada Jurusan Penerangan Agama Hindu; 2) Untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman mahasiswa terhadap Ritual Hindu sesuai dengan konsep desa kala patra; 3) Media pelestariannilai-nilai kebudayaan lokal; 4) Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang terefleksi dari kearifan lokal, bagi segenap Mahsiswa dan dosen dilingkungan kampus, dan pada akhirnya mampu sebarluaskan ke khalayak.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Ketua STAHN-TP palangka raya, Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil. Pertama-tama menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada kejur penerangan atas dinamika yang ada, khususnya dilingkungan jurusan. Bekerja dengan penuh semangat dan rasa percaya diri dalam menjalankan setiap tugas. Sikap demikian hendaknya dijadikan contoh bagi dosen dan pejabat dalam menjalankan segenap tugas. Apresiasi juga diberikan kepada panitia yang telah bekerja dengan baik untuk pelaksanaan kegiatan ini. Kepada seluruh peserta yang hadir, beliau berpesan agar seminar ini dijadikan sebagai ajak berdialog, dan menimba ilmu khususnya bagi para mahasiswa. Tema ini begitu penting dalam rangka mengkorelasikan antara ritual, etika dan filosofinya, dengan demikian pada akhirnya mampu ditransformasikan dalam perilaku keagamaan di masyarakat agar semakin terang, imbuhnya. Usai menyampaikan sambutan Ketua STAHN-TP palangka Raya kemudian membuka secara resmi kegiatan seminar pagi itu.
Seminar ini menghadirkan dua (2) Narasumber dari jurusan Penerangan, yaitu : 1) Dr. Drs. I Made Suyasa, MAP., M.Si., dengan judul makalah “Upacara Ngaben dan Landasan Pemikirannya”., 2) Wentin, S.Ag., M.Pd.H., dengan judul makalah “Upacara Tiwah sebagai Ritualitas”.

Kedua narasumber mempresentasikan makalahnya masing-masing 30 menit. Penjelasan makalah dari kedua narasumber sangat menarik perhatian peserta. Dengan gaya yang penuh semangat, kedua narasumber mengupas tuntas perihal Ngaben dan Tiwah baik itu dari sisi ritualisnya sendiri, kemudian etika dan filsafatnya. Menariknya pemaparan materi dari kedua narasumber membuat seluruh peserta terlihat tenang menyimak setiap penjelasan. Menariknya pemaparan yang ditunjukkan kedua narasumber terbalas pada sesi dialog. Tidak kurang dari 12 belas peserta urun rembug. Sesungguhnya animo peserta sangat tinggi dalam sesi dialog tersebut, hal itu terlihat dari beberapa mahasiswa yang tidak memperoleh kesempatan menyampaikan gagasan dan pertanyaannya. Namun seminar harus dihentikan mengingat batasan waktu.