×

Error

The template for this display is not available. Please contact a Site administrator.

DINAMIKA HINDU NUSANTARA Menuju Persatuan Umat Hindu Indonesia Seminar Nasional, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN-TP)

Palangka Raya, Senin 02 Juni 2014 STAHN-TP Palangka Raya sebagai satu-satunya perguruan Tinggi Negeri Hindu di Kalimantan melaksanakan kegiatan seminar nasional dengan tema “Dinamika Hindu Nusantara”. Tema ini beranjak dari kondisi kemajemukan umat Hindu di Indonesia. kemajemukan ini secara alamiah akan melahirkan ekspresi budaya dan keagamaan yang bervariasi. Oleh karenanya sangat disadari eksistensi dan pergerakan Hindu di Indonesia senafas dengan kebudayaan yang dilalui. Konsekuensinya kemudian Hindu lebih terlihat sebagai ragam wajah ketimbang berwajah tunggal. Dalam wujudnya, inilah yang kemudian melahirkan peristilahan ragam dalam sebutan Hindu yang ada di Indonesia, seperti; Hindu Bali, Hindu Jawa, Hindu Toraja, Hindu Bugis, Hindu Kaharingan, Hindu ambon, Hindu Tengger, dan sebagainya.

 

Menurut ketua panitia seminar Dr. Pranata, M.Si dalam laporannya mengatakan “seminar dengan tema Dinamika Hindu Nusantara secara luas diharapkan mampu memberikan wawasan dan pemahaman kepada audience tentang “Hakikat kemajemukan, kemajemukan budaya, Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, dan implikasi dari sebuah kemajemukan dalam berbangsa”. Melalui seminar inipula diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan hakikat ajaran Hindu (tattwa, susila, upacara), dengan demikian audience mengerti, kemudian menyadari betapa penting dan mulianya ajaran Hindu. Akhirnya, kesadaran tersebut menggerakkan setiap pribadi untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan ajarannya dengan penuh kesadaran. Wakil Ketua I STAHN-TP ini juga menambahkan, seminar nasional ini diharapkan mampu memberikan referensi dalam upaya-upaya yang bertalian dengan peningkatkan persatuan Hindu Indonesia dan dimaksudkan sebagai media belajar, pemaknaan dan internalisasi terhadap sejarah Hindu di Nusantara.

Seminar nasional di buka secara resmi oleh ketuan STAHN-TP Prof. I Ketut Subagiasta,D.Phil. Pak Prof. Ketut sapaan akrabnya menjelaskan, “seminar ini agar dapat dijadikan sebagai momentum dalam membangun pemikiran segar untuk meningkatkan solidaritas umat Hindu di Indonesia. Beliau memberikan apresiasi atas terlaksananya seminar ini. Terlebih narasumber yang dihadirkan adalah orang-orang yang sangat berkompeten dan merupakan tokoh Hindu yang berasal dari generasi dan budaya (adat) yang cukup bervariasi, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai gambaran keberagaman Hindu di Indonesia”.

Seminar Nasional diikuti oleh 100 peserta, yang diambil dari perwakilan pelbagai elemen masyarakat, diantaranya adalah Lembaga Keagamaan Hindu (PHDI, MBA-HK), Organisasi kemahasiswaan Hindu (BEM STAHN-TP Palangka Raya, KMHDI, PERADAH, PPMHK), Akademisi baik itu dosen dan mahasiswa (STAHN-TP) Palangka Raya, IHDN Denpasar, UNHI Denpasar, UNUD Denpasar, STAHN Gde Pudja Mataram, STAH Dharma Nusantara Jakarta, STHD Klaten, STAH Lampung), Guru dan Penyuluh agama Hindu.

Seminar Nasional menghadirkan tiga narasumber yaitu Drs. Walter S. Penyang sebagai Ketua Umum Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBA-HK) yang memaparkan tentang “Dinamika Hindu di Kalimantan Tengah Pasca Integrasi”. Ketua umum MBA-HK memulai pemaparannya dengan mengurai sejarah kerajaan Hindu di Kalimantan yaitu kerajaan Kutai, kemudian diuraikan pula bagimana keadaan Kaharingan pada masa kolonial Belanda kemudian pemerintahan orde lama s.d.orde baru hingga terjadinya integerasi dengan Hindu Dharma.

Dr. Tri Handoko Seto, M.Sc, sebagai ketua Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) dengan materi “Kebangkitan kedua Hindu Nusantara di Tanah Jawa”, tokoh muda yang juga sebagai penasehat Paguyuban MAJAPAHID ini menjelaskan bahwa kebangkitan kedua Hindu di tanah Jawa harus memiliki Daya ungkit yang besar. Kebangkitan ini harus menjawab pertanyaan mendasar yang menyebabkan lambatnya penetrasi Hindu kedalam berbagai lini kehidupan. Kebangkitan kedua Hindu menurut Dr. Lulusan Jepang ini haruslah ditandai dengan rasionalisasi ritual dan budaya adiluhung nusantara, kebangkitan yang bertumpu pada pada akar budaya. Kebangkitan yang ditandai dengan pembangunan filsafat Hindu secara masif pada diri semua umat Hindu. Singkatnya filsafat ini akan menjadi senjata untuk bisa menembus berbagai lini kehidupan dinegeri ini.
Kemudian narasumber ketiga adalah Ngakan Putu Putra, M.Hum (Pemred Media Hindu) dengan materi Vedanta, Inti Agama Hindu: dimana Etika dan Keberagaman Ritual Berakar. Pemimpin Redaksi Media Hindu ini mengatakan bahwamasyarakat pemeluk Hindu di Nusantara adalah masyarakat yang dinamis, dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik dan kebudayaan. Ini adalah suatu tanda masyarakat yang hidup dan sehat. Dinamika juga terjadi dibidang agama, khususnya dibidang etika dan terutama dibidang ritual.dibidang etika terjadi juga dinamika mengikuti perkembangan kesadaran masyarakat. Dibidang ritual dinamika melahirkan kemajemukan yang luas, karena Hindu memelihara budaya religius lokal sepanjang tidak bertentangan dengan Weda. Hindu menjaga agar para pemeluknya tidak tercabut dari tanah budayanya sendiri. Tetapi dibawah semua perubahan yang disebabkan oleh dinamika itu terdapat sesuatu yang tidak berubah, yang kekal, yaitu tattwa. Ngakan Putu Putra mengatakan tattwa merupakan jangkar agar kapal yang bernama dinamika itu bergerak terarah dan tidak saling menabrak satu sama lainnya. Ia menambahkan, dengan memahami tattwa, masyarakat Hindu akan lebih mudah melakukan adaptasi mengikuti perkembangan kesadaran manusia, yang semakin maju baik secara intelektual maupun spiritual. (Pengelola Web STAHN-TP)