Umat Hindu Kaharingan Tewang Manyangen Katingan Peringati Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1936

Budi Purnomo,SH,M.SiKatingan,(05/04/2014) Minggu siang, Umat Hindu Kaharingan Kecamatan Tewang Manyangen (Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah) memperingati Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1936 tahun 2014. Kegiatan Dharma Santi Nyepi tersebut dilaksanakan pada hari Minggu 05 April 2014 bertempat di Balai Basarah umat Kaharingan Desa Tewang Manyangen. Kegiatan Dharma Santi Nyepi ini dihadiri oleh seluruh umat Hindu Kaharingan se Kecamatan Tewang Manyangen. Selain itu dihadiri pula oleh Ketua Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan Kecamatan Tewang Manyangen (Sidi Duyan,S.Ag,M.Si), Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan kabupaten Katingan (Drs.Kundit) dan tokoh umat Hindu Palangkaraya (Budi Purnomo,SH,M.Si) yang juga dosen STAHN-TP Palangkaraya, kemudian para undangan lainnya.

Dalam sambutannya ketua Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan (Sidi Duyan,S.Ag,M.Si) mengatakan bahwa peringatan Dharma Santi Nyepi ini adalah wujud rasa keagamaan dan kerohanian umat Hindu Kaharingan yang wajib dilaksanakan. Pelaksanaan Dharma Santi Nyepi dimaksudkan pula sebagai pembinaan dan pendidikan keagamaan bagi anak-anak, generasi muda dan umat Hindu Kaharingan, dengan demikian mereka merasa memiliki kebanggaan sebagaimana umat agama lainnya, ungkap Sidi. Pada kesempatan yang sama Sidi, juga memberikan apresiasi terhadap panitia penyelenggara kegiatan dharma Santi ini. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs.Kundit (ketua MD-AHK) Katingan yang sudah berkenan hadir. Kemudian juga Bapak Budi Purnomo,SH,M.Si beserta rombongan yang datang dari Palangkaraya secara khusus diundang panitia sebagai (penceramah agama) pendarma wacana dalam rangkaian kegiatan dimaksud.

Umat Hindu Kaharingan Tewang Manyangen Katingan Peringati Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1936Perayaan Dharma Shanti Nyepi umat Hindu Kaharingan Tewang Manyangen Kabupaten Katingan ini benar-benar meriah, dari halaman Balai Basarah tampak berjejer umbul-umbul menyambut kedatangan tamu undangan. Kemudian di dalam Balai dihiasi dengan berbagai hiasan dan spanduk yang bertuliskan tema dan sub thema kegiatan. Adapun thema kegiatan Dharma Santi Nyepi kali ini yaitu “Dengan Melaksanakan Dharma Negara Kita Wujudkan Harmonis Nusantara” dengan sub thema “Dengan Semangat Tri Dharma Kita Tingkatkan Bakti dan Sradha Bersama Umat” thema Dharma Santi tersebut sama dengan thema Dharma Santi nasional. Tampak suasana meriah ketika ditampilkannya tari-tarian dan lagu-lagu rohani yang dibawakan oleh sanggar tari binaan ketua MR-AHK Kecamatan Tewang Manyangen. Terdengar suara bergemuruh musik tradisional mengiringi tarian dan lagu keagamaan yang dipentaskan dalam acara perayaan Dharma Santi Nyepi kali ini, membuat suasana Dharma Shanti Nyepi menjadi meriah dan sangat mengesankan.

Umat Hindu Kaharingan Tewang Manyangen Katingan Peringati Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1936

Selain penampilan tari-tarian juga di isi dengan dharmawacana oleh Budi Purnomo,SH,M.Si dari dosen STAHN-TP Palangkaraya. Dalam pesan Dharma Shanti Nyepi kali ini, Budi Purnomo mengajak umat untuk memaknai Dharma Shanti Nyepi Tahun Baru Saka 1936 kali ini untuk mewujudkan ajaran Tri Dharma, dengan demikian maka kita dapat terwujudnya harmonis nusantara. Dalam ceramahnya, Budi lebih banyak menyoroti tentang sejarah dan perkembangan lahirnya tahun baru Saka. Kemudian penanggalan Saka pun telah berkembang di Indonesia dibawakan oleh seorang pendeta Hindu (Aji Saka) dari Gujarat India yang tiba di Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada tahun 456 Masehi. Semenjak saat itu diperingatilah tahun baru Saka oleh umat Hindu di Indonesia yang dalam pelaksanaanya dilaksanakan bersamaan dengan hari Raya Nyepi. Lebih lanjut, Budi Purnomo, mengatakan ada 4 pokok menjadi hikmah Dharma Santi Nyepi itu yang perlu kita renungkan dan implementasikan dalam kehidupan umath Hindu, yaitu :
Pertama, konsep “Tri Kaya Parisudha” implementasinya ialah berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik. Kedua, konsep “Tri Hita Karana” implementasinya ialah harmonis hubungan manusia dengan manusia, harmonis hubungan manusia dengan alam lingkungan, dan harmonsis hubungan manusia dengan dewa, sangiang,sahur parapah, Tuhan YME.

Ketiga, konsep “Tat Twam Asi” implementasinya adalah hukum cinta kasih yaitu saling asah, saling asuh dan saling asih (walas asih) itulah inti dari rangkaian kegiatan Dharam Santi Nyepi itu, ucap Budi Purnomo. Untuk itu kita perlu memperkuat ajaran dharama memalui kegiatan keagamaan dan salah satunya adalah dengan hikmah Nyepi yakni amati geni, amati karya, dan amati lelanguan. Yang intinya adalah pengendalian diri serta menghindari diri dari hal-hal yang negatif dan ketamakan. Dalam hidup yang singkat ini, sebaiknya kita gunakan jalan dharma dengan sebaik-baiknya.Ucap Budi Purnomo. Mengakhiri ceramahnya Budi Purnomo, mengajak umat Hindu Kaharingan agar terus memupuk rasa kebersamaan, persatuan dan menjaga kerukunan interen keagamaan kita, dengan demikian kita tidak mudah dipecah belah, tandas Budi Purnomo.***(Arma/Roni;02/05/2014).