Umat Hindu Kaharingan Palangkaraya Peringati HUT Integrasinya Yang Ke-34

Umat Hindu Kaharingan Palangkaraya Peringati HUT Integrasinya Yang Ke-34Palangkaraya (22/04/2014) Senin malam, Umat Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah memperingati hari ulang tahun Integrasinya yang ke-32. Kegiatan Hut Integrasi Kaharingan dengan Hindu diperingati secara bersamaan dengan perayaan Dharma Shanti Nyepi Tahun Baru Saka 1936 bertempat di GPU Tambun Bungai Jalan A.Yani Palangkaraya. Dalam sambutannya ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (Drs.Walter S.Penyang) mengatakan bahwa peringatan Hut Integrasi ini adalah sebuah refleksi sejarah perjuangan suku dayak penganut kepercayaan Kaharingan di bumi Kalimantan (Borneo) di era tahun 1980-an.

Istilah integrasi artinya penyatuan kembali Kaharingan (agama helu) dengan agama Hindu (agama tertua di Indonesia) hal itu berdasarkan pada persamaan teologis dan filosofis. Hal lain berdasarkan fakta sejarah menunjukan bahwa kerajaan Hindu tertua adalah berada di pulau Kalimantan (Kutai) ucap Walter S.Penyang. Integrasi Kaharingan dengan Hindu pada massa lalu tidak ada paksaan atau hanya keinginan segelintir orang, tetapi murni kehendak dan keinginan dari seluruh umat Kaharingan.

HUT Integarasi Hindu Kaharingan ke 34

Dengan adanya intergasi pada tahun 1980 tersebut, maka masyarakat dayak pemeluk kepercayaan Kaharingan di pulau Kalimantan khususnya di Kalimantan Tengah mendapat pengakuan baik secara legal formal maupun secara politik sebagai agama Hindu Kaharingan, yakni agama Hindu yang bercirikan, beridentitas dan budaya Kaharingan. Makna integrasi bagi umat Hindu Kaharingan adalah sebagai bentuk kembalinya Kaharingan bergabung dengan agama Hindu sebagai agama asalnya atau agama leluhur suku dayak di pulau Kalimantan. Oleh sebab itu kata Walter S.Penyang, keberadaan, eksistensi Agama Hindu Kaharingan dan Lembaga Mejelis Besar Agama Hindu Kaharingan tidak bisa ditawar-tawar atau di ganggu-gugat sebagai harga mati dan sudah final. Dengan demikian pemerintah dan negara RI harus mengakuinya dan wajib melakukan pembinaan terhadap masyarakat dayak pemeluk agama Kaharingan, tandas Walter S.Penyang.

Sedangkan menurut Lewis KDR, BBA, yang juga seorang tokoh pendiri integrasi kaharingan kedalam agama Hindu yang menyatakan bahwa proses panjang perjuangan Kaharingan. Berawal dari konggres SKD tahun 1953 di desa Bahu Palawa (DAS Sungai Kahayan) yang menghendaki agar provinsi Kalimantan tengah terpisah dari provinsi Kalimantan selatan yang ketika itu masih bergabung di Banjarmasin. Namun setelah tahun 1953 perjuangan SKDI(Serikat dayak Kaharingan Indonesia) berubah untuk memperjuangkan agar Kaharingan menjadi agama resmi di Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan tengah khususnya, menindak lanjuti hal tersebut maka diadakan rapat di desa Pahandut pada tahun 1972 dirumah bapak Simal Penyang.

Adapun hasil keputusan rapat tersebut adalah membentuk lambaga keagamaan yang disebut Lembaga Alim Ulama Kaharingan. Selanjutnya menurut Lewis KDR Lembaga Alim Ulama Kaharingan terus berjuang untuk mendapat pengakuan pemerintah terhadap agama Kahaingan.akhirnya pada tahun 1980 Majelis alim ulama Kaharingan harus memilih jalan bergabung dengan Agama Hindu Indonesia Hindu dharma sebagai upaya penyelamatan umat Kaharingan dan budayanya sehingga tetap bisa eksis. Maka sejak tahun 1980 ditetapkanlah melalui SK Dirjen 37 atas nama Menteri Agama RI menetapkan Lembaga Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan adalah sebagai lembaga keagamaan yang bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan pembinaan dan pengembangan bagi umat hindu kaharingan di Kalimantan tengah.

Dalam acara peringatan HUT integrasi tersebut juga diberikan penghargaan kepada para tokoh pelaku integrasi antara lain 1 Lewis KDR, BBA, 2. Drs. Oka Swastika,SH, 3.Simal Penyang, 4.Drs. Libel Sigai, 5.Basir Ungit Djunas. Dalam acara tersebut Dirjen Bimas Hindu Prof Dr IBG Yudha Triguna MS berkenan untuk menyematkan pin sekaligus menyerahkan piagama penghargaan kepada masing-masing pelaku integrasi atau ahil warisnya. Acara HUT integrasi ke-34 tersebut dihadiri oleh Gubernur Kalteng yang diwakili oleh Asisten 3 dan Wakil Walikota Palangkaraya Dirjen Agama Hindu, Ketua PDHI Pusat dan seluruh Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan dari seluruh kota se-Kalimantan Tengah. *** (Arma/Roni;20/04/2014).