PMB Online

PMB Online STAHN Tampung Penyang Palangka Raya

Perpustakaan Online

Ecampus SIAKAD

Sistem Informasi Akademik STAHN Tampung Penyang

Encyclopedia

Jurnal Online

Layanan Pengadaan

Webmail

Webmail STAHN Tampung Penyang

Find Our Location

PRO DAN KONTRA KEBERADAAN LGBT DI INDONESIA

PRO DAN KONTRA KEBERADAAN LGBT DI INDONESIA
Oleh:
Ervantia Restulita L. Sigai


Diunggah:Dr.Drs.I Made Suyasa, MAP.,M.Si: Kanit TI dan PDPT STAHN-TP Palangkaraya, 29 April 2016


Apa yang harus dilakukan …
adalah menemukan cara untuk merayakan perbedaan dan
mendiskusikan perbedaan tanpa memecah belah komunitas kita
(John F. Kennedy)


Jika kita tidak bisa mengakhiri perbedaan-perbedaan kita,
paling tidak kita dapat membantu dunia aman untuk keanekaragaman
(Anacharsis)

 

Fenomena LGBT
Membahas isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau yang biasa disingkat LGBT. Fenomena LGBT sedang marak diperbincangkan dan diperdebatkan. Semaraknya pemberitaan media elektronik maupun aktivitas dari anggota LGBT yang berusaha semakin menunjukkan eksistensi dan identitasnya.LGBT tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan maupun agama.
LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini dianggap lebih mewakili kelompok-kelompok tersebut (Swain, 2007). Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Sering kali istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual,biseksual, atau transgender(Shankle, 2006). Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika.Namun, tidak semua kelompok setuju dengan akronim dan penyeragaman penyebutan LGBT (Finnegan, 2002; Bloodsworth-Lugo, 2007).


Tiga terminalogi penting menyangkut seksualitas manusia yaitu indentitas gender/seksual, orientasi seksual, dan perilaku seksual (Boelstorff, 2005: 282). Identitas seksual adalah pengakuan individu atau diri sendiri atas penentuan peran diri. Identitas seksual seseorang terbagi menjadi tiga golongan, yaitu homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Perilaku Seksual, yaitu segala perilaku yang dilakukan karena adanya dorongan seksual. Perilaku seksual adalah perilaku yang berhubungan dengan fungsiorgan reproduksi.
Orientasi Seksual adalah pola ketertarikan seksual emosional, romantik, dan atau seksual terhadap lelaki, perempuan, keduanya, tidak satupun, atau jenis kelamin lainnya. Americal Psychological Asociation (APA) menyebutkan bahwa istilah ini juga merujuk pada perasaaan seseorang terhadap “identitas pribadi” dan sosial berdasarkan ketertarikan, perilaku pengungkapannya, dan keaggotaan pada komunitas yang sama.Kaum LGBT menyerukan bahwa mereka memiliki hak yang sama seperti individu lainya hanya berbeda dalam pilihan orientasi seksual, dan pilihan tersebut bukan sebuah kejahatan seksual.
Membicarakan mengenai seksualitas dan homoseksulitas, tentu tidak lepas dari adanya peran teori. Teori homoseksual yang berkembang saat ini pada dasarnya dapatdibagi menjadi dua golongan, yaitu esensialis dan konstruksionis. Esensialisme berpendapat bahwa homoseksual berbeda dengan heteroseksual sejak lahir, hasildari proses biologi dan perkembangan. Teori ini menyiratkan bahwa homoseksualitas merupakan abnormalitas perkembangan, yang membawa perdebatan bahwa homoseksualitas merupakan sebuah penyakit. Identitas seksual yang dimiliki seseorang (untuk menjadi homoseksual, heteroseksual atau biseksual) tersebut merupakan bawaan dari lahir (given), yang tidak dapat diubah-ubah lagi, individu tersebut memiliki gen yang berbeda dari lainnya, yang mempengaruhi orientasi seksualnya. Esensialisme seksual yang demikian itu menganggap seks itu tidak berubah, asosiasi dan transhistoris dianggap sebagai salah satu penjelasan yang sah agamis tentang seksualitas. Bahwa seksualitas merupakan sebuah konstruk sosial (socially constructed), bukan fakta kromosomik biologis. Seperti yang digambarkan Foucault sebagai akibat relasi penguasa-pegetahuan-kenikmatan (power-knowledge-pleasure relation).
Sebaliknya, konstruksionis berpendapat bahwa homoseksualitas adalah sebuah peran sosial yang telah berkembang secara berbeda dalam budaya dan waktu yang berbeda. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan antara homoseksual dan heteroseksual secara lahiriah (Carroll, 2005). Sebagian besar ahli homoseksualitas percaya bahwa tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan homoseksualitas dan faktor bersifat individualberbeda-beda dari satu orang ke orang yang lain. Akibatnya, tidak ada satu orangpun yang mengetahui secara pasti penyebab seseorang menjadi seorang homoseksual (Santrock, 2002).Namun menurut Cass (1979: 219-235) tahapan pembentukan perilaku homoseksual yang dikenal dengan cass identity model sebagai berikut :
(1) identity confusion, Individu mulai percaya bahwa perilakunya bisa didefinisikan sebagai gay atau lesbian; (2) identity comparison, Individu menerima potensi identitas dirinya gay; menolak model heteroseksual tetapi tidak menemukan penggantinya. Orang yang berada dalam tahapan ini masih menyangkal homoseksualitasnya dan berpura-pura sebagai seorang heteroseksual; (3) identity tolerance, individu mulai berpindah pada keyakinan bahwa dirinya mungkin gay atau lesbian dan mulai mencari komunitas homoseksual sebagai kebutuhan sosial, seksual dan emosional. Biasanya, individu masih tidak membeberkan identitas barunya pada dunia heteroseksual dan tetap menjalankan gaya hidup ganda; (4) identity acceptance, pandangan positif tentang identitas diri mulai dibentuk, hubungan dan jaringan gay dan lesbian mulai berkembang. Pembukaan jati diri selektif kepada teman dan keluarga mulai dibuat, dan individu secara intens terlibat homoseksual; (5) identity pride, kebanggaan sebagai homoseksual mulai dikembangkan, dan kemarahan terhadap pengobatan dan penolakan heteroseksual. Individu merasa cukup bernilai dan cocok dengan gaya hidupnya; (6) identity synthesis, individu benar-benar merasa nyaman dengan gaya hidupnya. Individu menjalani gaya hidup gay yang terbuka sehingga pengungkapan jati diri tidak lagi sebuah isu dan menyadari bahwa ada banyak sisi dan aspek kepribadian yang mana orientasi seksual hanya salah satu aspek tersebut. Proses pembentukan identitas telah selesai.

Pro dan Kontra Keberadaan LGBT di Indonesia
Di Indonesia, homoseksualitas merupakan hal yang masih tabu. Kaum LGBT minoritas dan dilekatkan dengan label stigma “pendosa, melawan kodrat, abnormal, pesakit, sampah masyarakat dan gaya hidup yang tidak sehat” yang harus dihindari. Berbagai faktor yang menimbulkan stigma, pro dan kontra keberadaan LGBT di Indonesia antara lain, yaitu: (1) kaum agamawan, hubungan sesama jenis dilarang dilarang oleh agama dan merupakan dosa besar. Agama Samawi melarang keras dan dianggap keji. Nilai-nilai agama menjadi pedoman dalam membangun aspek kehidupan sosial. (2) Perspektif sosial pada umumnya masyarakat menganut orientasi hetroseksual. Orientasi hetroseksual tersebut merupakan pola pikir heteronormatifitas bahwa setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi di antara tiap gender yang berbeda. Manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Tuhan, sudah seharusnya manusia mengikuti aturan tersebut. (3) persfektif hukum meski di Indonesia dianggap penyimpangan perilaku seksual, melanggar norma agama dan sosial, namun beberapa negara memperbolehkan. (4) perspektif psikologis, lebih mengutamakan kesejahteraan mental setiap individu. Penuturan Roslina Verauli (dalam Nurmuseriah, 2006: 2) bila LGBT tidak mengakibatkan penyimpangan prilaku yang membawa efek buruk bagi kehidupannya, maka tidak dapat dikatakan bahwa individu tersebut dianggab mengalami gangguan atau termasuk kriteria abnormal secara klinis, (4) perspektif kesehatan hubungan homoseksualitas beresiko lebih tinggi untuk terkena penyakit seperti kanker anal, kanker mulut, radang selaput otak, dan HIV/AIDS. Hal tersebut ditandaskan Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita F. Moeloek (dalam Antara, 2015: 1-2) berikut ini.
Lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) merupakan masalah kejiwaan, bukan gangguan kejiwaan. Perilaku lesbian, gay dan biseksual dari sisi kesehatan tidak dibenarkan karena hal tersebut membuat angka penyakit di tengah masyarakat menjadi cukup tinggi. Terkait dengan transgender adalah masalah kelainan bentuk organ reproduksi manusia atau meragukan antara organ wanita atau pria. Namun hal tersebut seiring waktu dapat diketahui mana yang lebih dominan dan dapat teratasi.

Pandangan berbeda dari hasil penelitian yang dilakukan American Psyhiatric Association semenjak tahun 1973, LBGT bukanlah lagi penyakit atau kelainan mental dan tidak dapat disembuhkan.Begitupula pernyataan Rubin (1993: 143) ranah seksualitas juga memiliki politik internal sendiri, ketidakadilan, dan mode penindasan. Merupakan bagian dari aspek-aspek lain dari perilaku manusia, bentuk-bentuk kelembagaan konkret seksualitas setiap waktu dan tempat merupakan produk dari aktivitas manusia. Mereka dijiwai dengan konflik kepentingan danmanuver politik, baik yang disengaja maupun insidental.
Data dari Paw Research Center tahun 2013 (www.pewglobal.org) mengungkapkan homoseksual diterima secara toleran diberbagai negara di dunia antara lain, yaituSpanyol 88%, Jerman 87%, Republik Ceko 80%, Perancis 77%, Inggris 76%, dan Italia 74%,Yunani 53%, dan Kanada80%. Pendapat tentang homoseksual positif di beberapa bagian Amerika Latin. Di Argentina, negara pertama di kawasan melegalkan pernikahan gay pada tahun 2010, sekitar tiga-perempat (74%) mengatakan homoseksualitas harus diterima, Chile 68%, Meksiko 61% dan Brasil 60; Venezuela 51% juga mengungkapkan penerimaan. Di wilayah Asia/Pasifik, pandangan homoseksual kebanyakan negatif, namun Australia 79% dan Filipina 73 % menyatakan homoseksual diterima oleh masyarakatnya; begitupula di Jepang 54% setuju.Amerika jauh lebih toleran hari ini (2013)60 % dibanding tahun 2007.Sedangkan 93% orang Indonesia tidak menerima adanya homoseksual. Di kalangan masyarakat Indonesia, hanya 3% yang mau mendukung eksistensi kaum gay. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masuk ke negara dengan tingkat toleransi terhadap kaum homoseksual terendah ketiga didunia.

Penutup
Pro dan kontra terhadap keberadaan LGBT di Indonesia tidak lepas dari perspektif yang beragam. Namun, keberadaan kaum homoseksual semestinya dihargai atas dasar kemanusian tanpa stigmatisasi dan diskriminatif. Mereka berhak mendapatkan pengakuan oleh negara, kehidupan yang aman, serta hak-hak dasar manusia lainnya. Eksistensi LBGT dapat diupayakan agar dapat kembali ke “fitrahnya”dekontruksi kebijakan dengan pendekatan yang lebih humanisuntuk merangkul kaum LGBT.
DAFTAR PUSTAKA
Antara. 2016. “Sisi Kesehatan: LGBT adalah Masalah Kejiwaan”. www. Actual.com. 22 Februari. Diakses 26 Februari 2016.

Boelstorff, Tom. 2005. The Gay Archipelago: Sexuality and Nation in Indonesia. Priceton & Oxford: Princeton University Press.

Carroll, J. L. 2005. Sexuality Now: Embracing Diversity. Belmont, California:Wadsworth/Thomson.

Cass, V. C. 1979. “Homosexual identity formation: A theoretical model”. Journal of Homosexuality,volume 4.p. 219-235.

Finnegan, Dana G.; Emily B. McNally. 2002. Counseling Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Substance Abusers: Dual Identities. New York-London-Oxford: The Haworth Press.

Gale Research Company. 1985. Acronyms, Initialisms &Abbreviations Dictionary, Volume 1, Part 1. Michigan: Gale Research Co.

Nurmuseriah, Afiza. 2016. “Peninjauan LGBT dari Berbagai Aspek”.http://lifestyle.okezone.com/. 23 Februari. Diakses 26 Februari 2016

Rubin, Gayle. 1993. “Thinking Sex: Notes for a Radical Theory of The Polities of Sexuality”. In Lesbian and Gay Studies Reader. New York: Routledge.

Santrock, Jhon Way. 2002. Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.

Shankle, Michael D. 2008. The Handbook of Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Public Health: A Practitioner's Guide To Service. London & New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Swain, Keith W. 2007. "Gay Pride Needs New Direction". In Denver Post,21 June.

Contact Us

STAHN-TP Palangka Raya

Alamat : Jln. G. Obos X Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia, 73112
Telp : (0536) 3229942, 324039, 3327942
Fax : (0536) 3242762
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Connet With Us

   

Find Us On Facebook