PMB Online

PMB Online STAHN Tampung Penyang Palangka Raya

Perpustakaan Online

Ecampus SIAKAD

Sistem Informasi Akademik STAHN Tampung Penyang

Encyclopedia

Jurnal Online

Layanan Pengadaan

Webmail

Webmail STAHN Tampung Penyang

Find Our Location

LESBIAN, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGENDER (LGBT) MENURUT PANDANGAN AGAMA HINDU


Diunggah:
Dr.Drs.I Made Suyasa, MAP.,M.Si:
Kanit TI dan PDPT STAHN-TP Palangkaraya, 29 April 2016

I. Pendahuluan
I.1. Latar Belakang
Indonesia yang notabene adalah Negara Pancasila yang meletakan sila pertama yaitu berke-Tuhanan Yang Maha Esa sebagai pondamen dasar cara pandang hidup warga negaranya, nilai-nilai agama bahkan agama sangat berpengaruh terhadap tata kehidupan warga bangsa ini dan menjadi identitas yang melekat ini membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa berkewarganegaraan yang tertulis jelas didalam kartu identitasnya yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP), warga Negara Indonesia harus memilih agama sesuai dengan keyakinan yang dipilihnya bahkan Negara melarang warganegara Indonesia tidak beragama. Kebebasan berkeyakinan dan memilih agamanya dijamin oleh UUD Negara Republik Indonesia khususnya pasal 29 UUD’45 dalam Poerwanto (2007:57) : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. sehingga Negara Republik Indonesia ingin menjadikan warganegara Indonesia sebagai insan yang beragama, menghayati dan mengamalkan agamanya dalam hidupnya, perilaku menjadi insane beragama inilah yang akan menjamin sebagai warganegara yang memiliki budi pekerti yang luhur sesuai dengan norma agama yang diajarkan dalam agama yang dipeluknya.
Fenomena globalisasi sangatlah pesat dengan pengaruh teknologi canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi dengan teknologi canggih ini manusia sebagai warga Negara Republik Indonesia mengalami era kekinian yang sama dialami oleh bangsa-bangsa lainnya di seluruh dunia yang sedikit-demi sedikit menggerus nilai atau norma agama yang selama ini dipegang teguh, akhirnya pengaruh globalisasi ini akan mengubah perilaku hidupnya yang disibukkan rutinitas hidupnya dengan urusan pribadi asik dengan teknologi yang dikenalnya sehingga akan membawa perilaku hidup yang seharusnya manusia sebagai makhluk social cenderung akan menjadi individualistis selanjutnya mengarah pada kehidupan individual, yang tentunya bertentangan dengan kebiasaan warga negara Indonesia yang terkenal dengan hidup kekeluargaan yang kental dengan nilai kegotong royongan, perubahan perilaku bangsa Indonesia akan menjadi bagian dari bangsa-bangsa lainnya dan era globalisasi yang kuat dengan teknologi Informasi dan komunikasi ini sangat perpengaruh dalam segala bidang kehidupan: politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Era global semakin mengubah sikap perilaku yang sangat berpengaruh kepada bangsa ini untuk mencoba keluar dari kebiasaan dan rutinitas hidup sehari-harinya mencoba mengadopsi hal-hal yang dianggapnya baik yang merebak saat ini yaitu budaya Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), yang selama ini di Indonesia sangat ditentang karena tidak sesuai dengan norma agama yang sejak lama menjadi dasar tatanan hidup warga Negara Republik Indonesia, walaupun kehidupan LGBT ini ditentang tidak dapat dipungkiri kenyataanya kehidupan LGBT ini ada di masyarakat tetapi tidak mendapat tempat dan hidup terselubung dalam kehidupan yang terbatas dan sering dikonotasikan dengan kehidupan yang tidak normal dengan segala diskriminasi, buli dan tekanan terhadap kaum LGBT semacam ini, sejak merebaknya Hak Asasi Manusia (HAM) yang mulai digaungkan diseluruh dunia dan banyaknya Negara yang mulai menerima keberadaan LGBT sebagai manusia yang memiliki hak dan kwajiban yang sama dengan manusia normal lainya, yang selama ini bangsa Indonesia hanya menerima warganya adalah manusia normal yang kehidupan seksualnya hanya mengenal Heteroseksual atau penyuka lawan jenis.
Dengan merebaknya HAM maka kehidupan LGBT mencari atau menuntut kepada Negara agar di akui keberadaannya dan diterima statusnya di masyarakat suatu contoh Negara Amerika Serikat Pada tangal 26 Juni 2015 lalu, Mahkamah Agung di AS telah mengakui pernikahan sejenis (kelamin). Ini artinya, seluruh negara bagian di sana wajib memberi pengakuan pada pasangan satu jenis kelamin yang melakukan pernikahan. Selama ini, hanya 30 negara bagian AS yang mengizinkan pernikahan sejenis atau dikenal dengan sebutan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Keputusan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Bagi negara yang menganut paham serupa, bukan tak mungkin langkah AS ini akan segera mereka ikuti. Faktanya, di beberapa negara Eropa sudah ada yang lebih dulu memberikan pengakuan atas pernikahan sejenis.
Pasti apa yang dilakukan Negara Amerika ini akan ada LGBT Negara-negara lainnya akan mengikutinya bahkan kelompok kecil masyarakat Indonesia sebagai penganut perilaku LGBT yang ikut merasakan kebahagiaan ini. Mereka tentu berharap, angin kegembiraan dari AS itu bisa berembus ke Indonesia dan menjadi sebuah keputusan resmi sebagai bentuk pengakuan pernikahan sejenis dari pemerintah.
Di balik itu, hampir mayoritas masyarakat indonesia tak sependapat dengan legalilitas pernikahan sejenis. Pernikahan sejenis dianggap sebagai bentuk penyimpangan terhadap norma susila dan agama. Disinilah yang menjadi perhatian dari agama-agama di Indonesia untuk perperan aktif dan selalu control kepada umatnya untuk memberikan pemahaman, begitu pula agama hindu untuk ikut perperan dalam mensosialisasikan ajaran agamanya.

I.2. Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut diatas dapat ditarik suatu permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. apakah pengertian LGBT
2. Bagaimana pandangan agama Hindu mengenai LGBT
3. Bagaimana cara mengantisipasi perilaku LGBT

II. Pembahasan Masalah
2.1. Pengertian LGBT
LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Belakangan isu LGBT tengah marak bendera pelangi yang menjadi simbol kaum LGBT di Eropa mulai berkibar dan baru-baru ini Amerika Serikat melegalkan perkawinan sejenis dan mendapat tempat yang sama dengan manusia heteroseksual pada umumnya. Pada tangal 26 Juni lalu, Mahkamah Agung di AS telah mengakui pernikahan sejenis (kelamin). Ini artinya, seluruh negara bagian di sana wajib memberi pengakuan pada pasangan satu jenis kelamin yang melakukan pernikahan. Selama ini, hanya 30 negara bagian AS yang mengizinkan pernikahan sejenis atau dikenal dengan sebutan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).
Keputusan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia. Bagi negara yang menganut paham serupa, bukan tak mungkin langkah AS ini akan segera mereka ikuti. Faktanya, di beberapa negara Eropa sudah ada yang lebih dulu memberikan pengakuan atas pernikahan sejenis,
Homoseksual adalah salah satu bentuk perilaku seks yang menyimpang, ditandai dengan rasa tertarik secara perasaan (kasih sayang hubungan emosional dan atau secara erotic) terhadap jenis kelamin yang sama dengan atau tanpa hubungan seks menurut Dadang Hawari (2009:36 – 37). Kata homoseksual adalah hasil penggabungan bahasa Yunani dan Latin dengan elemen pertama berasal dari bahasa Yunani homos, 'sama' (tidak terkait dengan kata Latin homo, 'manusia', seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga berarti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu berjenis kelamin sama, termasuk lesbianisme. Pengertian dari LGBT secara umum adalah homoseksual manusia yang memiliki rasa ketertarikan romantic dan/atau seksual atau perilaku antara indivividu berjenis kelamin atau gender yang sama Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada "pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis" terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, "Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Lesbian adalah manusia homoseksual yang memiliki rasa ketertarikan romantic/ atau seksualnya kepada sesamanya yang berjenis kelamin perempuan.
b. Gay adalah manusia homoseksual yang memiliki rasa ketertarikan romantic/atau seksualnya kepada sesamanya yang berjenis kelamin laki-laki.
c. Biseksual adalah manusia yang memiliki ketertarikan romantis, ketertarikan seksual, atau kebiasaan seksual kepada pria maupun wanita. Istilah ini umumnya digunakan dalam konteks ketertarikan manusia untuk menunjukkan perasaan romantis atau seksual kepada pria maupun wanita sekaligus. Istilah ini juga didefinisikan sebagai meliputi ketertarikan romantis atau seksual pada semua jenis identitas gender atau pada seseorang tanpa mempedulikan jenis kelamin atau gender biologis orang tersebut.
d. Transgender adalah manusia yang memiliki ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap jenis kelamin yang ditunjuk kepada dirinya. Transgender bukan merupakan orientasi seksual. Seseorang yang transgender dapat mengidentifikasi dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual. Beberapa menilai penamaan orientasi seksual yang umum tidak cukup atau tidak dapat diterapkan kususnya terhadap kondisi transgender. Beberapa definisi dari "transgender" adalah sebagai berikut.
☻Seseorang yang ditunjuk sebagai seks tertentu, umumnya setelah kelahiran berdasarkan kondisi kelamin, namun merasa bahwa hal tersebut adalah salah dan tidak mendeskripsikan diri mereka secara sempurna.
☻Tidak mengidentifikasi [diri mereka] atau tidak berpenampilan sebagai seks (serta gender yang diasumsikan) yang ditunjuk saat lahir.
Manusia/individu transgender dapat memiliki karakteristik yang biasanya dikaitkan dengan gender tertentu dan dapat pula mengidentifikasi gender mereka di luar dari definisi umum, Istilah gender ketiga dan jenis kelamin ketiga menggambarkan individu yang dikategorikan (atas kehendak mereka atau dengan konsensus sosial) baik sebagai seorang pria maupun wanita.
Demikian uraian diatas memberikan difinisi tentang LGBT yang mana keberadaan mereka juga bukan menjadi keinginan mereka, begitu pula keberadaannya tentunya masih tidak mendapat tempat di Negara Republik Indonesia yang masyarakatnya sangat kental hidup dalam suasana religius.

2.2. Bagaimana pandangan agama Hindu mengenai LGBT
Agama Hindu sebagaimana agama-agama yang lainnya di Indonesia, Hindu juga merupakan sruti atau wahyu tuhan dan juga smerti yang merupakan tafsir yang mana hindu akan merealisasi sruti dengan saat atau era dimana hindu itu dianut oleh umatnya, agama hindu bersifat universal dalam artian masih mampu mengatur sesuai dengan dijaman dulu hingga sekarang. Hindu dikenal memiliki pondamen dasar yaitu Tri Kerangka Agama Hindu: Tatwa (Filsafat), Etika (Susila/Hukum), Upacara (Ritual) tentunya akan mengacu ke kerangka agama tersebut dalam menyikapi masalah yang muncul didalam kehidupan manusia.
Kehidupan manusia didalam agama Hindu tentunya harus mengacu pada setiap firman Tuhan Sang Hyang Widi Wasa/Ranying Hatalla Langit, ada ayat dalam Kitab Suci Sarasamuccaya sebagai berikut:
“manusah sarvabhutesu
varttate vai cubhacubhe,
acubhesu samavistam
cubhesvevavakarayet.
(Sarasamuccaya Sloka 2)
Artinya:
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk: leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.
“upabhogaih parityaktam
natmanamavasadayet,
Candalatvepi manusyam
sarvvatha tata durlabham”
(Sarasamuccaya Sloka 3)
Artinya:

Oleh karena itu, jangan sekali-kali bersedih hati sekalipun hidupmu tidak makmur; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun kelahiran yang hina.

“Yo durlabhataram prapya
Manusyamlobhato narah
Dharmavamanta kamatma
Bhavet sakalavancitah”
(Sarasamuccaya Sloka 9)
Artinya:

Bila ada yang beroleh kesempatan menjadi orang (manusia), ingkar akan pelaksanaan dharma; sebaliknya amat suka ia mengejar harta dan kepuasan napsu serta berhati tamak; orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar.
Menyimak sloka tersebut diatas umat hindu dihadapkan pada jatidiri dan tujuan hidup didunia ini yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma adalah tujuan hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia ini maupun mencapai moksa yaitu kebahagiaan di akhirat kelak, Moksa yang juga disebut mukti dengan tercapainya kebebasan jiwatman atau juga disebut mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng di akhirat atau manunggaling kawulo gusti. Jagadhita juga disebut bhukti yaitu kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara. Dengan melaksanakan swadharma masing - masing secara tekun dan penuh rasa tanggung jawab yang dalam pelaksanaan catur dharma sebagai tugas yang patut kita dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum.
Sehingga manusia yang dimaksud dalam sloka 2-3 dan 9 kitab suci sarassamusca seharusnya manusia dapat mensyukuri kelahiran menjadi manusia dan memanfaatkan kelahiran menjadi manusia itu sehingga manusia hindu akan berpegang teguh dengan agamanya atau dharma sebagai dasar dan penuntun manusia di dalam menuju kesempurnaan hidup, ketenangan dan keharmonisan hidup lahir bathin. Orang yang tidak mau menjadikan dharma sebagai jalan hidupnya, maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan tetapi kesedihanlah yang akan dialaminya. Hanya atas dasar dharmalah manusia akan dapat mencapai kebahagiaan dan kelepasan, lepas dari ikatan duniawi ini dan mencapai moksa yang merupakan tujuan tertinggi.
Sangat jelas disini umat hindu memiliki tujuan tertinggi adalah moksa dan kehidupan didunia yang sementara ini adalah media untuk umat hindu meningkatkan kehidupan yang lebih baik sehingga akan menghantarkan kea lam kelanggengan yaitu manunggal dengan Tuhan (Manunggaling Kalulo Gusti).
Pada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing. Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”
Artinya: Untuk menjadi Ibu wanita diciptakan, dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan.
Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) merujuk pada sloka ini cenderung tidak sesuai dengan tujuan umat hindu yaitu agar umat Hindu selalu berbuat dharma, dharmanya yaitu mensyukuri keadaannya terlahir sebagai manusia itu adalah utama, secara biologi merujuk pada jenis kelamin apa yang dimilikinya, dan mengetahui tugas fungsinya terlahir menjadi manusia dengan jati dirinya laki-laki atau wanita, dimana kaum LGBT akan merasakan ketidak tepatan menerima kondisi/tidak mensyukuri yang mereka alami suatu contoh terlahir menjadi laki-laki tapi tidak melakukan dharmanya sebagai laki-laki begitu sebaliknya seorang wanita harus tahu dharmanya sebagai wanita, disinilah kalau ditelaah kaum LGBT cenderung menuruti nafsu birahi atau kepuasan seks saja sebagai penentu keberadaannya (eksistensi) dirinya terlahir di dunia ini, sedangkan didalam agama hindu lebih ditekankan kepada pengendalian diri terutama panca indrianya atau kama. Sebagaimana sloka Bhagavadgita III.7 berikut: “Yas tv indriyani manasa niyamya rabhate ‘rjuna, Karmendriyaih karma-yogam asaktah sa visisyate.
Artinya:
Sesungguhnya orang yang dapat mengendalikan Panca Indranya, dengan pikiran, dengan panca indranya bekerja tanpa keterikatan, ia adalah orang yang sangat dihormati. Secara alami, pasti ada saja suara yang masuk ketelinga kita, yang mungkin tidak mengenakkan hati.
Pengakuan gender dan jati diri LGBT suatu hal yang tidak mengenakkan akan mendapatkan tudingan sebagai manusia yang tidak normal terdiskriminasi, dibuli dan tidak diterima oleh lingkungan sosialnya, tetapi saat kita bisa mengendalikan napsu dalam panca indria kita maka akan ada kebahagiaan dan bisa kita arahkan kepada kegiatan-kegiatan yang positip tentunya dunia terbuka dengan kegiatan positip tersebut, tapi bila kaum LGBT memaksakan eksistensinya agar diterima dan memaksakan akan membuat kekacauan dalam hal tujuan perkawinan, bila LGBT juga menuntut untuk pengakuan perkawinan maka bertentangan dengan tujuan perkawinan menurut agama hindu, tentunya untuk kaum LGBT yang harus dipahami, seyogyanya menerima kodratnya bila terlahir menjadi laki-laki maka mengerti tugas dan fungsi untuk menjadi seorang ayah begitu pula wanita akan menjadi seorang ibu, disini yang perlu dipahami sebagi Ayah untuk Laki-laki dan Ibu untuk perempuan agar dapat melestarikan kesinambungan keturunan manusia. kwajiban melaksanakan Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya.
Adapun 3 tujuan pernikahan menurut ajaran Hindu menurut kitab kitab Manavadharmasastra yaitu:
1. Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.
Sebagaimana perihal diatas memasuki jenjang perkawinan bukan untuk sekedar memenuhi nafsu atau melampiaskan seks saja, tetapi yang lebih diutamakan adalah kewajiban memasuki klas grihasta dimana peran dan fungsi seorang laki-laki dan seorang perempuan benar-benar bisa dibuktikan yang akhirnya akan sangat membantu keberadaan kelestarian generasi penerus manusia yang suputra. Sebagaimana wacana
Dari 3 hal tersebut diatas tentunya satu yang tidak dapat dilakukan oleh kaum LGBT akan menjadi status Ayah dan Ibu yang sesuai dengan kodratnya yaitu untuk melahirkan keturunan guna lestarinya keberlangsungan hidup manusia.
Di Negara Indonesia jelas ada Undang-undang yang mengatur tentang perkawinan yaitu Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, martiman (1991:23) sebagai berikut:
“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dan bilakah perkawinan dianggap sah:

Perkawinan dianggap sah, jika diselenggarakan:
1. Menurut hokum masing-masing agama dan kepercayaan
2. Secara tertip menurut hokum syari’ah (bagi yang beragama islam)
3. Dicatat menurut perundang-undangan, dengan dihadiri oleh pegawai pencatat nikah.

Dari Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 itu sudah sangat jelas yang dimaksudkan adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan yang diatur di Negara Republik Indonesia yang dapat melaksanakan perkawinan.
Perkawinan didalam agama hindu adalah salah satu tahapan kehidupan yang disebut dengan Catur Asrama; Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhasta (masa berumah tangga), Wanaprasta (masa membatasi diri dari aktifitas duniawi), Bhiksukan (masa melepaskan diri dari ikatan duniawi) penekanan ini adalah memporsikan bukan membatasi suatu contoh: masa brahmacari tentunya 100% menuntut ilmu dalam segala hal tetapi bagi asrama Grhasta tentunya mempraktekakan ilmu yang dulu telah didapat dan mengembangkannya, tetap menuntut ilmu tetapi porsinya tidak seperti sewaktu dalam fase brahmacari.
Perkawinan menurut Hindu adalah tahap masuk dalam jenjang Grhastaasrama yang intinya adalah mendapatkan keturunan atau anak, “Anak adalah buah akibat dari adanya proses perkawinan…….” sebagaimana dalam Tim Penyusun Hita Grha (2000:21) karena itu anak dipandang sebagai tujuan orang melaksanakan perkawinan, menurut agama Hindu anak merupakan dambaan setiap orang berkeluarga dan yang disebut anak dalam agama Hindu adalah yang dijadikan tempat berlindung bagi orang yang memerlukan pertolongan.
Salah satu masalah bila menuntut pengakuan dalam hal legalitas perkawinan bagi kaum LGBT adalah banyak hal yang tentunya tidak dapat dilaksanakan sebagaimana tujuan perkawinan menurut hindu adalah menghasilkan keturunan, yang dimaksud keturunan atau anak itu adalah generasi penerus yang akan menyelamatkan leluhur dan orang yang melahirkan juga orang-orang yang memerlukan pertolongan, dalam hal ini tentunya tidak mungkin kaum LGBT bisa merealisasikannya sebagaimana tujuan perkawinan menurut agama hindu.
Dampak negatip dari kehidupan kaum LGBT adalah merebaknya penyakit HIV AID dimana menurunnya daya imun pada tubuh sehingga pengidap penyakit ini akan mengalami kemerosotan berat badan dan akhirnya terinfeksi berbagai macam penyakit, karena kekebalan tubuh turun atau bahkan tidak ada maka penyakit yang diderita tak mudah untuk disembuhkan atau bahkan meninggal dunia.
2.3. Bagaimana cara mengantisipasi perilaku LGBT
Untuk mengantisipasi perilaku LGBT, bagi orang tua kususnya harus memahami bahwa Kasus lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) tidak begitu muncul dengan sendirinya melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, perkembangan seksualnya dari anak-anak sampai akil balik menginjak remaja saat dorongan seksualnya mulai muncul disinilah perlunya perhatian terhadap pendidikan dini dari keluarga dan memperhatikan pergaulan sosialnya. Homoseksual bisa di antisipasi dengan pendekatan pendidikan dari lini terbawah yaitu keluarga.
Orang tua tentunya sangat prihatin dengan maraknya Lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), untuk mengantisipasi perlu memperhatikan keluarga khususnya dalam mendidik putra-putrinya dengan memperhatikan 5 faktor penting sebagai berikut:
1. Factor Fisik (Biologi), memberikan pengetahuan sejak dini mengenali struktur tubuh dengan fungsi-fungsinya terutama alat kelamin sesuai dengan kejiwaannya.
Contoh: bagaimana mendidik anak laki-laki selalu mengikuti kebiasaan bapaknya apa yang dikerjakan dilakukan dalam keluarga pigur bapak akan menjadi teladan dan mengenali alat reproduksi yang dimiliki begitu pula anak perempuannya pendekatan seorang ibu penting dan apa yang dilakukan ibunya jadi teladan, juga mengenali alat kelamin yang dimilikinya.
2. Factor Kejiwaan (Psikologi), memberikan pengetahuan sejak dini secara kejiwaannya sesuai dengan kondisi jenis kelamin secara fisik biologic yang dimiliki. Contoh: bagaimana memupuk nilai ke laki-lakian sikap berperilaku kalau putra sifat-sifat kegagahan, melindungi, juga untuk putrinya bagaimana jiwa ke ibuan akan tertanam sejak dini.
3. Factor Social, membekalkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya suatu contoh bagaimana menempatkan diri di rumah, di tempat kerja juga lingkungan socialnya, kalau laki-laki bagaimana menempatkan diri dilingkungan sosialnya begitu pula perempuan dapat mengambil porsi-porsi social yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
4. Factor Spiritual, mampu melaksanakan ibadah sesuai kondisi kejiwaannya (psikologi) maupun pisik yang dimilikinya (biologi), mampu menempatkan diri dalam lingkungannya dan berinteraksi mengambil peran juga belajar agama dan mempraktekannya di lingkungan sosialnya.
5. Factor Kesehatan, memahami bahwa berbuat yang tidak sesuai dengan kodrat sebagai manusia normal akan berdampak kepada kesehatan Jasmani dan Rohani.

III. Kesimpulan
1. Kehidupan Lesby, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia tentunya masih merupakan tata kehidupan yang tidak sesuai dengan peradapan bangsa Indonesia yang notabene adalah bangsa yang Pancasilais dan menjunjung tinggi norma-norma agama yang berkembang di Indonesia.
2. Menurut Agama Hindu jelas kehidupan Lesby, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bertentangan dengan kitab suci Weda yang mana manusia harus menerima kodratnya sebagai manusia apapun kondisinya, dan dengan terlahir menjadi manusia inilah yang akan mampu keluar dari penderitaan salah satunya keluar dari cengkeraman hidup menjadi LGBT, sehingga akan merubah ke kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama Hindu sesuai dengan tujuannya yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma adalah tujuan hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia ini maupun mencapai moksa yaitu kebahagiaan di akhirat kelak.
3. Perlunya sedini mungkin keluarga untuk berupaya responsive terutama dalam melindungi putra-putrinya dengan mendidik yang benar agar tidak terjerumus nantinya generasi penerus kita dalam kehidupan yang tidak kita inginkan yaitu kehidupan LGBT.

DAFTAR PUSTAKA
Gun gun. 2011. Bhagawad Gita (terjemahan bergambar). Denpasar. PT. Mabhakti.
Hawari Dadang. 2009. Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual.Jakarta. FKUI
Kajeng I Nyoman DKK.1994. Sarasamuccaya. Hanuman Sakti.
Prodjohamidjoyo Martiman.1991. Tanya Jawab Undang-undang Perkawinan Peraturan Pelaksanaan. Jakarta. PT. Pradnya Paramita
Pudja G DKK.2002. Manawa Dharmacastra (Manu Dharma Sastra) atau Weda Smrti Compedium Hukum Hindu. Jakarta. CV. Felita Nursatama Lestari.
Koesdyo R. Poerwanto. 2007. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta. Graha Ilmu
Tim Penyusun. 2000. Hita Grha. Jakarta. Depag. RI
Wikipedia. (2016), “Biseksualitas.” https://id.wikipedia.org/wiki/Biseksualitas (diakses 19, April, 2016)

Contact Us

STAHN-TP Palangka Raya

Alamat : Jln. G. Obos X Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia, 73112
Telp : (0536) 3229942, 324039, 3327942
Fax : (0536) 3242762
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Connet With Us

   

Find Us On Facebook