PMB Online

PMB Online STAHN Tampung Penyang Palangka Raya

Perpustakaan Online

Ecampus SIAKAD

Sistem Informasi Akademik STAHN Tampung Penyang

Encyclopedia

Jurnal Online

Layanan Pengadaan

Webmail

Webmail STAHN Tampung Penyang

Find Our Location

Proceeding of International Seminar - Religion in Cultural Diversity : Harmonization of Religious Life

Proceeding of International Seminar

Religion in Cultural Diversity : Harmonization of Religious Life

 

 

Table of Contents

 

Living in a Sacred Cosmos: Rituals, Myths, Ethics and Science in Indonesia

By Prof. Bernard Adeney-Risakotta

 

The Diversity of Religion and Culture : Existence, Actualization, and Integrity

Perspective of Hindu Philosophy

By: I Ketut Subagiasta

 

Consideration about Religious Diversity and Religious Conflict

in Indonesia Through Comparing with Phenomena in South Korea: 

In the perspective of historical and statistical, based on previous studies

By: Kim Sang Hee

 

The Concepts of Harmony and Peace in Dayak’s Tradition

As Reflected in the Philosophical Values of Huma Betang

By: Tiwi Etika

 

Siwalima and Tiga Batu Tungku:

The Ambonese’s Local Wisdoms in Preserving the Harmony of Life

By: I Nyoman Yoga Segara

 

Strategy In Achieve Harmony Religious Life

Nusa DharmaTemple in Benoa, South Kuta, Badung

By: I Ketut Gunarta

 

Tuturangiana Andala: The Trust Traditional of Makassar Island in Baubau City

in The Middle Of Globalization 

By: Syahrun and Arman

 

Building Cultural Traditions Based on Social Entrepreneurship to Strengthen

Religious Tolerance in Indonesia: An Experience from Yogyakarta

By: Farsijana Adeney-Risakotta

 

Hindu Concept of Plurality and Religious Harmony

By: I Wayan Sukabawa

 

The Harmonization of Religious Life Within The Multiculturalism in Indonesia

By: Mujiyono

 

The Dynamics of Indonesian Religion and Culture in a Global Context

By: I Putu Suarnaya

 

Ritual Practice Balian Ngansak In Dayak Lawangan Community as The Way to 

Develop Harmony Religious Life in Central Dusun, East Barito, Central Kalimantan

By: ErvantiaRestulita L. Sigai

Religious Reinterpretation In The Spirit Of Postmodernism

Towards Indonesia Harmony

By: Puspo Renan Joyo

 

The Religious Values of Nahunan Ritual of Dayak Ngaju Community

 In Central Kalimantan

By : I WayanSalendra

 

Assemblies Role of Religion to Maintenance Life Inter-Religious Harmonyin Denpasar

By: Ni Made Anggreni

 

Building Multicultural Values in Horizontal Conflicts

in Society of Lombok West Nusa Tenggara

By: I Wayan Wirata

 

The Tower Of Babel Episode: From Accursed To God’s Multiculturalism Blessing

(an Exegetical Study of Genesis 11 : 1 – 9)

By: Merilyn

 

Rejang Dance as Media of Spiritual Intelligence Development on Early Childhood 

(Towards Harmonious Religious Life)

By: Ni NyomanSudiani

 

PRO DAN KONTRA KEBERADAAN LGBT DI INDONESIA

PRO DAN KONTRA KEBERADAAN LGBT DI INDONESIA
Oleh:
Ervantia Restulita L. Sigai


Diunggah:Dr.Drs.I Made Suyasa, MAP.,M.Si: Kanit TI dan PDPT STAHN-TP Palangkaraya, 29 April 2016


Apa yang harus dilakukan …
adalah menemukan cara untuk merayakan perbedaan dan
mendiskusikan perbedaan tanpa memecah belah komunitas kita
(John F. Kennedy)


Jika kita tidak bisa mengakhiri perbedaan-perbedaan kita,
paling tidak kita dapat membantu dunia aman untuk keanekaragaman
(Anacharsis)

 

Fenomena LGBT
Membahas isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau yang biasa disingkat LGBT. Fenomena LGBT sedang marak diperbincangkan dan diperdebatkan. Semaraknya pemberitaan media elektronik maupun aktivitas dari anggota LGBT yang berusaha semakin menunjukkan eksistensi dan identitasnya.LGBT tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan maupun agama.
LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini dianggap lebih mewakili kelompok-kelompok tersebut (Swain, 2007). Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Sering kali istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual,biseksual, atau transgender(Shankle, 2006). Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika.Namun, tidak semua kelompok setuju dengan akronim dan penyeragaman penyebutan LGBT (Finnegan, 2002; Bloodsworth-Lugo, 2007).

TUGAS DAN FUNGSI JURU PENERANG MENINGKATKAN ILMU AGAMA BAGI SELURUH UMAT HINDU DI ERA GLOBALISASIDENGANPENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI(TI)

TUGAS DAN FUNGSI JURU PENERANG MENINGKATKAN ILMU AGAMA BAGI SELURUH UMAT HINDU DI ERA GLOBALISASIDENGANPENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI(TI)

Oleh
I WAYAN SUKABAWA

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang begitu pesat, memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia. Saat ini teknologi sudah menyentuh segala aspek kehidupan manusia, sehingga banyak produk yang diciptakan untuk mempermudah tugas serta menunjang aktivitas manusia. Salah satu perkembangan yang paling jelas saat ini yaitu pesatnya perkembangan teknologi yang berbasis kepada teknologi informasi. Berkaitan dengan tugas dan fungsi juru penerang tidak bisa lepas dari pengertian Juru penerangan agama Hindu itu sendiri. Jupen agama Hindu adalah para juru penerang penyampaian pesan kepada umat mengenai prinsip-prinsip, etika, dan nilai keberagamaan yang baik. Hasil akhir yang ingin dicapai penerangan agama ialah terwujudnya kehidupan umat Hindu yang memiliki pemahaman mengenai agama Hindu secara memadai. Penuh komitmen dan konsistensi disertai wawasan multikultur untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis, dan saling menghargai satu sama lain.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka tantangan tugas para peneranggan agama Hindu semakin berat, karena dalam kenyataan kehidupan di tataran masyarakat mengalami perubahan pola hidup yang menonjol.Tugas dan fungsi Tenaga Penyuluh atau pendharma wacana, adalah membimbing dan membina umat beragama antara lain; melalui keghiatan penyuluhan agama dalam rangka pembinaan moral, dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tugas dan fungsi penyuluh agama sesuai dengan tema “ Tugas dan Fungsi Juru Penerangan Meningkatkan Ilmu Agama Bagi Seluruh Umat Hindu di Era Globalisasi Dengan Penggunaan Teknologi Informasi (TI)” sebagai landasan moral, spiritual dan etika beragama, berbangsa dan bernegara, maka pembinaan kepada umat beragama berasaskan pada pembentukan budhi pekerti luhur, sehingga umat beragama memiliki akhlak mulia dalam kerangka berpikir, berkata dan berbuat.


Dalam situasi demikian, menuju keberhasilan kegiatan penerangan tersebut, maka perlu keberadaan juru penerangan agama Hindu memiliki kemampuan, kecakapan yang memadai sehingga mampu memutuskan menentukan sebuah proses kegiatan bimbingan dan penerangan sehingga dapat berjalan secara sistematis, berhasil guna, berdaya guna dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan. Untuk memiliki kemampuan yang memadai juru penerangan agama Hinndu diberikan pengetahuan dengan mengadakan seminar, lokakarya dan sebagainya.

MEWUJUDKAN HIDUP HARMONI DILANDASI DENGAN AJARAN DHARMA

MEWUJUDKAN HIDUP HARMONI DILANDASI DENGAN AJARAN DHARMA
Oleh
Dr. Drs. Iwayan Sukabawa, S.Ag., M.Ag
Sampaikan pada pengabdian masyarakat di desa batulicin Kalimantan selatan (Diunduh Kanit Teknelogi Infdiormasi Dan Pangkalan Data STAHN-TP Palangkaraya: Dr.Drs.I Made Suyasa,MAP.,M.Si)

Manusia adalah merupakan makhluk yang memiliki budhi untuk dapat berpikir yang lebih dibandikan dengan makhluk lain ciptaan Tuhan. Manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu. Dikatakan sebagai makhluk sosial kerena tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, selalu hidup berkelompok. Manusia tidak bisa hidup menyendiri di dunia ini. Pengelompokan hidup manusia menjadi suatu realita yang tidak dapat dielakan, selalu butuh hidup bersama dengan orang lain.

Manusia disebut sebagai makhluk individu karena setiap manusia mempunyai karakter tersendiri yang memberikan warna kehidupanya masing-masing. Dalam ilmu sosial paham individu menyangkut tabiatnya dengan kehidupan jiwa yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan.
Setiap orang yang hidup di bumi ini pasti mengharapkan hidup aman damai dan sejahtera. Lebih-lebih dalam Manawa Dharmasastra I.89 menyatakan: Pajanam raksanam danam... Maksudnya, para ksatriya (pemerintah) agar senantiasa mengupayakan rasa aman dan damai (raksanam) serta hidup sejahtera (danam) bagi masyarakat (praja). 

Ini artinya para ksatriya yang duduk di pemerintahan agar menciptakan iklim sejuk kepada masyarakat untuk mendapatkan rasa aman, damai, dan sejahtera. Untuk mendapatkan rasa aman, damai, dan sejahtra sebagai umat selalu menjalankan ajaran agama yang dianut dilaksanakan dengan baik, benar, dan penuh keyakinan. Dengan ajaran dharma prilaku untuk menguatkan kepercayaan atau sraddha dan bhakti kita kepada Tuhan lebih mantap. Gunakanlah kepercayaan dan bhakti kita pada Tuhan untuk menguatkan daya spiritual untuk meningkatkan kwalitas moral dan daya tahan mental dalam menghadapi berbagai dinamika dan hiruk pikuknya kehidupan.

MALAM SIWARATRI DI BATU NINDAN KECAMATAN BASARANG KABUPATEN KAPUAS KALIMANTAN TENGAH

Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah, tanggal, 19 Januari 2015 begitu khusuk dengan aroma dupa yang harum, disela suara gamelan juga suasana dingin karena turun hujan sepanjang hari yang mengingatkan kita pada suasana di Bali, memang begitulah adanya 110 KK yang ada di Banjar Merta Sari Desa Batu Nindan itu asli pendatang dari Bali sebagaimana dilaporkan dalam pelaksanaan brata Shivarātri yang digelar dengan kegiatan mejagra yang dihadiri ratusan umat yang didominasi generasi muda, Bapak Kepala Desa yang dibenarkan oleh Bapak I Ketut Swariga ketua dan Sekretaris Banjar Merta Sari Bapak Nyoman Swardana yang sama-sama prihatin dengan perkembangan moral generasi muda yang belakangan ini cenderung tidak terkontrol, kesadaran menyukai kidung-kidung asli warisan leluhur mulai kurang mohon sulosi nantinya kepada Bapak Budi Purnomo, SH., M.Si dalam penyampaian Dharma Wacananya untuk memberi motivasi kepada generasi Muda tentang pentingnya sembahyang.

Hadir pada acara ini Bapak Budi Purnomo, SH., M.Si. Herwandi, S.Pd. AH dari komunitas Manggatang Utus, Dody, S.Pd. AH Guru Agama Hindu yang aktif dalam gerakan pelayanan Basarah dan Mahasiswa juga pemuda Hindu Palangka Raya. Dalam wacananya Budi memberikan pengertian dan makna hari siwaratri Shivarātri yang diambil dari kakawin Shivarātrikalpa dimana intinya manusia diajak sadar akan jati dirinya sebagaimana dalam Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah "Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin (Moksa). Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dan Moksa.


Dharma berarti kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Artha adalah benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu, keinginan, juga berarti kesenangan sedangkan Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi atau pelepasan.mari kita isi hidup ini dengan cara yang benar dan selalu memohon bimbingan dan tuntunan Hyang Widhi/ Ranying Hattala Langit terlebih pada hari siwaratri yang bertabur berkah dari-Nya sebagaimana sloka berikut ini:


“Atyantādhika ning bratanya
taya kājar denikang rāt kabeh,
manggeh ling nikang ādisastra
Shivarātri punya tan popama”
Shivarātrikalpa. 12.1.


(Sangat utama Brata Sivarātri telah diajarkan kepada dunia dan sastra-sastra utama selalu menekankan keutamaan Shivarātri tiada bandingnya)
Bersyukurlah kita yang pada kesempatan ini bisa melaksanakan brata siwaratri bersama di Banjar Merta Sari ini, selanjutnya Budi menyampaikan standardisasi Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat telah menetapkan keputusan Seminar tentang Shivaratri yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut, Brata Shivarātri, terdiri dari:


1. Uttama, dengan melaksanakan : (Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara),Upavasa (tidak makan dan minum),Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).
2. Madhyama (menengah) dengan melaksanakan, Upavasa (tidak makan dan minum), Jagra (berjaga/melek,tidak tidur),
3. Kanistama (sederhana) denga melaksanakan : Hanya Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).


Tatacara melaksanakan Upacara Shivaratri : Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan Dharmaning Kawikon. Untuk Valaka (umat pada umumnya) didahului dengan asuci laksana (menyucikan diri). Upacara dimulai dengan urutan sebagai berikut : Maprayascitta, sebagai penyucian pikiran.
Mapajati , mempersembahkan sesajen ke Sanggar Surya untuk memohon persaksian kehadapan sang Hyang Sūrya.
Sembahyang kehadapan leluhur yang telah mencapai Siddhadevatā, untuk memohon bantuan dan tuntunanya.
Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Shiva. Banten ditempatkan pada palinggih, padmasana atau dapat pula pada piyasan di Sanggah Pamarajan. Bila semua palinggih tidak tersedia (misalnya di halam atau ruangan terbuka) dapat membuat semacam altar, yang dipandang wajar untuk melakukan sembahyang yang ditujukan kepada Sang Hyang Shiva dan dewata Samoddhaya. Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas Tirtha sebagai biasa.

Pembacaan Sloka
Sementara melakukan sembahyang Brata, baik Mona (Mauna), Upavasa dan Jagra tetap dilaksanakan.
Budi juga memberi solusi agar ada kreativitas dan tidak monoton kegiatan agama disamping melestarikan yang sudah ada perlu pengembangan contoh memberi kesempatan generasi muda untuk berkreatif suatu contoh membentuk pasraman dengan kegiatan belajar Yoga, membuat group vocal lagu rohani, tari-tari kreasi yang bernafas Hindu dan saat itu diajak praktek kidung Subhasita yang mendapat sambutan meriah oleh generasi muda ikut aktif melantunkannya. di contohkan juga oleh Herwandi, Kidung Gayatri memakai lagu Dewayadnya kas Dayak yang membuat suasana semakin hening dan mendapat apresiasi dari umat.


Dalam keantusiasan umat tanpa henti yang dilanjutkan dengan acara dharma thula yang menambah semaraknya acara jagra shiwaratri ini, akhirnya tepat pukul 12.00 WIB rombongan dipersilahkan meninggalkan pejagraan karena harus melanjutkan perjalanan pulang yang cukup jauh dan umat kembali memasuki Pura untuk terus melanjutkan acara jagra Shiwaratri jam 06 pagi (Kanit Informasi dan Pangkalan Data)

AGAMA DAN KORUPSI

KorupsiBerkecukupan harta dan bahkan menjadi kaya bukanlah sebuah dosa. Kaya atau miskin adalah sebuah rentang rasa bersyukur terhadap apa yang kita miliki. Mahatma Gandhi mengatakan, “bumi ini sangat mampu memenuhi kebutuhan semua makluk dunia ini, tetapi tidak mampu memenuhi keinginan seseorang anak manusia yang serakah” (Gandhi,2011).

More Articles...

Page 1 of 2

Contact Us

STAHN-TP Palangka Raya

Alamat : Jln. G. Obos X Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia, 73112
Telp : (0536) 3229942, 324039, 3327942
Fax : (0536) 3242762
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Connet With Us

   

Find Us On Facebook